GUNUNGKIDUL, (DIY), JOGJAAKTUAL.com-- Kabar duka kembali menyeruak dari tanah Gunungkidul. Di saat fajar menyingsing pada hari Minggu (22/2/2026), ketika sebagian besar umat Muslim sedang bersiap menyambut hari dengan sahur dan doa, seorang ibu rumah tangga berinisial YA (50) di Kapanewon Panggang justru memilih mengakhiri hidupnya. Peristiwa memilukan di sebuah kandang sapi ini bukan sekadar berita kriminal biasa; ini adalah alarm keras bagi ketahanan sosial dan kesehatan mental masyarakat kita.
Kontradiksi di Bulan Suci
Ramadan secara spiritual adalah momen pembersihan diri, peningkatan ketakwaan, dan penguatan kebersamaan. Namun, realitas di lapangan seringkali berkata lain. Bagi mereka yang berada di garis kemiskinan, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar saat berpuasa, tetapi juga tentang bagaimana memenuhi kebutuhan pokok yang harganya kerap melambung tinggi, serta beban ekspektasi sosial menjelang hari raya.
Tragedi yang menimpa YA, yang diduga dipicu oleh tekanan ekonomi, menegaskan bahwa iman saja terkadang sulit membendung beban perut yang kosong atau hutang yang menumpuk. Ada kontradiksi yang menyakitkan di sini: di tengah seruan untuk berbagi dan peduli, masih ada tetangga kita yang merasa begitu sendirian hingga melihat seutas tali sebagai satu-satunya jalan keluar.
Melampaui Statistik "Pulung Gantung"
Selama ini, fenomena bunuh diri di Gunungkidul seringkali dikaitkan dengan mitos Pulung Gantung. Namun, terus-menerus menyandarkan alasan pada mitos hanya akan membuat kita abai pada akar masalah yang sebenarnya: sosio-ekonomi dan kesehatan mental.
Laporan kepolisian yang menyebutkan tekanan ekonomi sebagai pemicu utama adalah sebuah pengakuan jujur bahwa struktur penyangga ekonomi di tingkat akar rumput masih rapuh. Ketika seorang ibu rumah tangga merasa tidak lagi memiliki harapan, itu adalah tanda bahwa sistem dukungan komunitas—baik dari pemerintah maupun lingkungan terdekat—sedang tidak berjalan dengan baik.
Urgensi Kepedulian Komunal
Kapolsek Panggang, AKP Gatot Sukoco, benar dalam imbauannya: kita perlu lebih peduli. Namun, peduli tidak boleh hanya berhenti pada kata-kata. Diperlukan langkah nyata:
Kepekaan Tetangga (Lumping Sosial): Budaya sambatan atau gotong royong di Gunungkidul harus diaktivasi bukan hanya untuk membangun rumah, tapi juga untuk mendeteksi kesusahan batin tetangga.
Intervensi Pemerintah: Akses terhadap layanan konseling psikologis di tingkat Puskesmas harus diperkuat dan didekatkan ke masyarakat tanpa stigma.
Literasi Ekonomi: Membantu warga mengelola tekanan ekonomi melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sosial sesaat.
Kematian YA harus menjadi titik balik. Kita tidak boleh membiarkan daftar panjang ini terus bertambah, apalagi di bulan yang penuh berkah. Kesucian Ramadan seharusnya diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk memastikan tidak ada lagi warga yang merasa sendirian dalam menghadapi gelapnya tekanan hidup.
Gunungkidul adalah tanah yang kuat, namun sekuat apa pun batu karangnya, ia akan terkikis jika terus dihantam badai ekonomi tanpa perlindungan. Saatnya kita berhenti melihat peristiwa ini sebagai statistik tahunan, dan mulai melihatnya sebagai kegagalan kolektif yang harus segera diperbaiki.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis atau memiliki pemikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat atau hotline darurat.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi.
Ikuti Saluran Jogja Aktual:



Social Header