![]() |
| Ismono, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul.(fto;Hm) |
"Hasil pemeriksaan biologi sampel sisa makanan dan air bersih ditemukan jenis bakteri dan kapang/khamir (jamur) yang diduga menjadi faktor penyebab keracunan makanan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, kepada reporter JogjaAktual.com Sabtu (4/10/2025).
Ismono mengatakan, telah mengambil sampel makanan pada 17 September 2025 untuk selanjutnya di lakukan uji laboratorium. Meskipun hasilnya ditemukan bakteri dan jamur, namun hasil uji laboratorium kimia pada sampel makanan dan air bersih tidak ditemukan unsur berbahaya seperti sianida, fosfor, maupun arsen.
Berkaca dari kejadian keracunan di Sumberejo Semin Dinas Kesehatan Gunungkidul memberi arahan setiap dapur SPPG untuk segera berbenah baik dari segi administrasi maupun teknis. Pihaknya mendorong agar setiap SPPG Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS).
"Berdasarkan hasil rapat kordinasi dengan Mendagri, Mentri Kesehatan, dan BGN setiap SPPG diarahkan mengurus SLHS terlebih dahulu sebelum beroperasi," ujar Ismono.
Ismono menambahkan, Dinas Kesehatan akan memberikan pelatihan setiap anggota SPPG terkait pengolahan, pengemasan, dan pendistribusian MBG untuk mengantisipasi kejadian keracunan tidak terulang kembali.
Diberitakan sebelumnya Belasan siswa di Gunungkidul D.I Yogyakarta dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis (MBG).
"Sebanyak 19 murid yang terdiri 6 laki-laki dan 13 perempuan telah mendapat perawatan medis akibat gejala keracunan usai makan menu MBG pada hari Senin kemarin," ucap Kepala Dinas Kesehatan Ismono Selasa (16/9/2025).
Selama penyelidikan berlangsung badan gizi nasional (BGN) mengeluarkan surat pemberhentian operasional sejak tanggal 27 September 2025.
Penulis: Hm_MY.
Editor: Redaksi.
Ikuti Saluran Jogja Aktual:
https://whatsapp.com/channel/0029VbBe2pMATRSqxbRi831Q



Social Header