Jogjaaktual.com-- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah mendapat perhatian luas dari masyarakat. Program ini dinilai mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak serta menekan angka kekurangan gizi. Namun, muncul perdebatan ketika program tersebut tetap dijalankan saat libur sekolah.
Pada dasarnya, kebutuhan gizi anak tidak berhenti hanya karena kegiatan belajar mengajar diliburkan. Bagi sebagian siswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, makanan bergizi dari sekolah menjadi asupan penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penghentian program MBG selama libur sekolah dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Meski demikian, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis saat libur sekolah tidak lepas dari berbagai kendala. Sekolah yang biasanya menjadi pusat distribusi makanan tidak beroperasi secara optimal. Hal ini menyebabkan pengawasan kualitas makanan dan ketepatan sasaran penerima menjadi lebih sulit. Selain itu, tanpa perencanaan yang matang, program ini berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran negara.
Dalam konteks tersebut, pemerintah perlu melakukan penyesuaian kebijakan. Skema pelaksanaan MBG saat libur sekolah dapat dialihkan melalui kerja sama dengan pemerintah desa, puskesmas, atau posyandu. Alternatif lainnya adalah pemberian bantuan pangan atau paket gizi kepada keluarga siswa yang membutuhkan.
Dengan pengelolaan yang tepat, program Makan Bergizi Gratis tetap dapat berjalan efektif meskipun sekolah sedang libur. Kebijakan ini tidak hanya menunjukkan keberpihakan negara terhadap kesejahteraan anak, tetapi juga mencerminkan penggunaan anggaran yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Penulis: Redaksi
Ikuti Saluran Jogja Aktual:



Social Header