Breaking News

Menyingkap Eksotisme Wota-Wati: Dusun 'Terlambat' Matahari di Jantung Lembah Bengawan Solo Purba

 


GUNUNGKIDUL , (DIY), JOGJAAKTUAL.com– Tersembunyi di ujung timur Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah dusun mungil di Desa Pucung, Kapanewon Girisubo, kini tengah menjadi buah bibir di jagat maya. Dusun Wota-Wati, yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Wonosari, menawarkan anomali alam dan budaya yang tak ditemukan di belahan bumi manapun di Gunungkidul.

Keunikan Geografis: Delapan Jam Sinar Mentari

‎Wota-Wati bukan sekadar pemukiman biasa. Secara geografis, dusun ini terletak tepat di dasar lembah aliran sungai Bengawan Solo Purba. Posisi yang diapit oleh perbukitan karst menjulang ini menciptakan fenomena unik: matahari "terlambat" terbit dan "lebih cepat" terbenam.

‎Warga setempat baru bisa merasakan hangatnya sinar mentari pada pukul 08.00 WIB, sementara kegelapan senja sudah mulai menyelimuti desa sejak pukul 15.00 WIB. "Secara bentang alam ini sangat menarik. Paparan sinar matahari di sini cukup minim, rata-rata hanya delapan jam setiap harinya," ujar Lurah Pucung, Estu Dwiyono dikutip dari Portal Pemerintah DIY, Kamis (26/2/2025).

Transformasi Estetika Era Majapahit

‎Keunikan Wota-Wati mendapat perhatian serius dari Pemerintah DIY. Melalui dukungan Dana Keistimewaan (Danais) senilai miliaran rupiah, wajah dusun ini dipoles sedemikian rupa dengan konsep kolosal era Kerajaan Majapahit.

‎Rumah-rumah warga kini bertransformasi menggunakan material batu bata merah, yang menjadi penanda visual kuat era klasik sekaligus ciri khas material lokal Gunungkidul. Menariknya, tata ruang pemukiman di sini menyerupai labirin modern. Gang-gang sempit menghubungkan setiap dua hingga empat rumah, menciptakan aksesibilitas unik di antara hunian yang dapur-dapurnya kompak menghadap ke arah timur.

Pariwisata Berbasis Edukasi dan Budaya

‎Bagi wisatawan yang jenuh dengan hiruk-pikuk kota, Wota-Wati menawarkan pengalaman slow living yang otentik. Sebagai desa wisata, pengunjung tidak hanya sekadar melihat pemandangan, tetapi juga dilibatkan dalam aktivitas keseharian warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak.

‎Beberapa aktivitas unggulan yang bisa dinikmati antara lain Wisata Edukasi: Belajar bercocok tanam dan beternak langsung bersama penduduk lokal.,Kuliner Tradisional: Menikmati sajian khas Gunungkidul seperti nasi tiwul, gaplek, dan getuk yang diolah secara tradisional., Live-in Experience: Bermalam di rumah warga untuk merasakan langsung denyut kehidupan di lembah purba.

Akses dan Harapan

‎Meski lokasinya terpencil, viralnya Wota-Wati di media sosial membuktikan bahwa potensi wisata "tersembunyi" memiliki daya tarik yang masif. Dengan pembangunan ikon wisata baru dan pelestarian budaya lokal, Wota-Wati diproyeksikan menjadi destinasi unggulan baru yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat di perbatasan timur Yogyakarta.

‎Bagi Anda yang merencanakan kunjungan, pastikan datang sebelum pukul 15.00 WIB untuk menyaksikan momen dramatis saat matahari perlahan menghilang di balik dinding bukit karst yang megah.


Penulis: HM JA

Editor: Redaksi.

Ikuti Saluran Jogja Aktual:

https://whatsapp.com/channel/0029VbBe2pMATRSqxbRi831Q



© Copyright 2022 - Jogjaaktual.com