JOGJAAKTUAL.com-- Kerajaan Mataram Islam atau Kesultanan Mataram merupakan salah satu imperium terbesar yang pernah berdiri di Pulau Jawa. Berkuasa antara abad ke-16 hingga ke-18, kerajaan ini meninggalkan warisan budaya, politik, dan spiritual yang masih terasa kental hingga saat ini, terutama di wilayah Yogyakarta dan Surakarta.
Asal-Usul: Hadiah Hutan Mentaok
Sejarah berdirinya Mataram Islam tidak lepas dari konflik internal di Kerajaan Pajang. Dimulai ketika Ki Ageng Pemanahan membantu Sultan Hadiwijaya (Raja Pajang) menumpas pemberontakan Arya Penangsang dari Jipang.
Sebagai imbalan atas jasanya, Ki Ageng Pemanahan dianugerahi wilayah tanah di Hutan Mentaok (sekarang kawasan Kotagede, Yogyakarta). Di bawah kepemimpinannya, wilayah yang tadinya hutan belantara disulap menjadi desa yang makmur. Setelah Ki Ageng wafat, perjuangannya diteruskan oleh putranya, Danang Sutawijaya.
Berdirinya Kesultanan dan Perlawanan terhadap Pajang
Danang Sutawijaya, yang kemudian bergelar Panembahan Senopati, memiliki ambisi besar untuk menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka. Hal ini memicu ketegangan dengan Pajang.
Puncaknya, terjadi pertempuran hebat antara pasukan Mataram dan Pajang yang akhirnya dimenangkan oleh Mataram. Pasca wafatnya Sultan Hadiwijaya, Danang Sutawijaya resmi mendirikan Kesultanan Mataram dan menjadi raja pertamanya (1586–1601 M).
Sultan Agung: Puncak Kejayaan dan Perlawanan Terhadap VOC
Masa keemasan Mataram Islam terjadi di bawah pemerintahan cucu Panembahan Senopati, yakni Sultan Agung Anyokrokusumo (1613–1645 M). Di tangan beliau, Mataram bukan sekadar kerajaan lokal, melainkan kekuatan hegemonik di Nusantara.
Beberapa pencapaian besar di masa Sultan Agung meliputi:
Penyatuan Tanah Jawa: Hampir seluruh Pulau Jawa, termasuk Madura, berhasil disatukan di bawah panji Mataram.
Konfrontasi dengan VOC: Menyadari ancaman kolonialisme, Sultan Agung dua kali mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1628 dan 1629 guna mengusir kongsi dagang Belanda (VOC).
Akulturasi Budaya: Beliau menciptakan Kalender Jawa yang memadukan kalender Saka dan Hijriah, serta menulis karya sastra filosofis seperti Sastra Gending.
Akhir Perjalanan: Perjanjian Giyanti
Seiring berjalannya waktu, konflik internal keluarga dan campur tangan VOC mulai melemahkan sendi-sendi kerajaan. Masa kekuasaan Mataram Islam secara utuh berakhir pada tahun 1755 M.
Melalui Perjanjian Giyanti, wilayah Mataram resmi dibagi menjadi dua kekuasaan:
Nagari Kasultanan Ngayogyakarta: Dipimpin oleh Hamengkubuwono I (berpusat di Yogyakarta).
Nagari Kasunanan Surakarta: Dipimpin oleh Pakubuwono III (berpusat di Surakarta).
Pembelahan ini menandai berakhirnya era persatuan Mataram Islam, namun sekaligus melahirkan dua pusat kebudayaan Jawa yang tetap lestari hingga era modern saat ini.
Penulis: HM JA
Editor: Redaksi.
Ikuti Saluran Jogja Aktual:
https://whatsapp.com/channel/0029VbBe2pMATRSqxbRi831Q



Social Header