GUNUNGKIDUL, (DIY), JOGJAAKTUAL.com-- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi oase peningkatan gizi pelajar justru memicu gelombang kritik pedas di Kabupaten Gunungkidul. Terbaru, distribusi menu MBG di SMK 1 Girisubo pada Selasa (3/3/2026) menjadi sorotan tajam setelah wali murid menemukan komponen pangan yang tidak layak konsumsi.
Berdasarkan data yang dihimpun, kegaduhan bermula ketika para siswa menerima paket makanan yang terdiri dari puding, buah jeruk, dan ubi rebus. Namun, ubi rebus yang seharusnya menjadi sumber karbohidrat sehat ditemukan dalam kondisi membusuk dan berbau menyengat.
Temuan ini pertama kali mencuat ke ruang publik melalui unggahan status WhatsApp sejumlah siswa dan wali murid yang merasa kecewa. Dalam foto yang beredar, tampak ubi rebus memiliki tekstur yang lembek dengan noda hitam yang mengindikasikan kerusakan pangan serius.
"Hampir semua ubi rebus itu busuk dan sama sekali tidak layak masuk mulut. Akhirnya, banyak siswa yang memilih mengembalikan jatah makanannya karena takut keracunan," ungkap salah seorang wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan, Selasa (3/3).
Wali murid tersebut menyayangkan lemahnya pengawasan kualitas (quality control) dari pihak penyedia jasa boga atau vendor yang ditunjuk untuk menjalankan program strategis nasional ini.
Insiden di SMK 1 Girisubo nampaknya bukan fenomena tunggal. Polemik serupa dilaporkan telah terjadi di berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul dalam beberapa pekan terakhir. Keluhan wali murid mengerucut pada satu titik: standar gizi dan kelayakan pangan yang dianggap jauh dari kata ideal.
Wali murid di Gunungkidul menyoroti beberapa poin diantaranya kualitas bahan baku higienitas: proses pengemasan yang dianggap kurang steril, hingga kesesuaian anggaran: menu yang diterima dinilai tidak mencerminkan nilai standar biaya MBG yang telah ditetapkan pemerintah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah maupun otoritas terkait di Kabupaten Gunungkidul masih terus diupayakan konfirmasinya untuk menjelaskan bagaimana komoditas pangan busuk tersebut bisa lolos dari pengawasan dan sampai ke tangan siswa.
Program MBG yang memiliki niat mulia ini kini berada di persimpangan jalan di Gunungkidul. Tanpa evaluasi dan sanksi tegas bagi penyedia jasa yang lalai, kesehatan siswa dipertaruhkan di tengah janji manis perbaikan gizi nasional
Penulis: HM JA
Editor: Redaksi.
Ikuti Saluran Jogja Aktual:



Social Header