GUNUNGKIDUL, JOGJAAKTUAL.com – Di tengah sorotan publik terhadap gaya hidup pejabat, sebuah langkah tak lazim diambil oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Ia secara tegas menyatakan menolak pengadaan mobil dinas baru senilai total Rp1,5 miliar yang telah dialokasikan dalam APBD 2026.
Meskipun anggaran telah disiapkan dan prosedur administrasi telah berjalan, Bupati yang akrab disapa "Mbak Endah" ini memilih untuk tetap setia menggunakan unit kendaraan lama yang sudah menemaninya selama lima tahun terakhir.
Kepala Badan Keuangan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul, Putro Sapto Wahyono, menjelaskan bahwa pengadaan ini sebenarnya merupakan bagian dari rencana peremajaan unit. Berdasarkan regulasi, kendaraan operasional yang telah berusia lebih dari lima tahun sudah layak untuk diperbarui guna menunjang mobilitas pimpinan daerah.
"Anggaran sudah disiapkan untuk pembelian mobil dinas masing-masing bupati dan wakil bupati senilai total Rp1,5 miliar (sekitar Rp750 juta per unit)," ujar Putro pada Rabu (25/3/2026).
Namun, Putro menegaskan bahwa pemerintah hanya bersifat menyediakan fasilitas sesuai hak pejabat. Segala keputusan akhir tetap berada di tangan Bupati. "Nanti semua akan dikonsultasikan ke Bupati apakah mau diambil atau tidak. Saat ini uangnya masih tersimpan aman di kas daerah," lanjutnya.
Rencana peremajaan ini muncul karena kendaraan yang digunakan saat ini merupakan peninggalan masa kepemimpinan sebelumnya, termasuk Toyota Fortuner dari era Bupati Badingah. Meski secara administratif sudah waktunya diganti, Bupati Endah memiliki sudut pandang berbeda.
Saat dikonfirmasi, Bupati Endah menyatakan dengan singkat namun tegas bahwa dirinya tidak akan mengambil jatah fasilitas mewah tersebut.
Bagi sang Bupati, esensi dari kendaraan dinas adalah fungsionalitas, bukan kemewahan atau gengsi. Ia menilai armada yang tersedia saat ini, mulai dari Toyota Hiace, Toyota Fortuner, hingga Toyota Camry, masih dalam kondisi prima dan sangat layak untuk menembus medan Gunungkidul yang menantang.
“Mobil dinas yang ada masih bagus-bagus,” imbuhnya dengan senyum tipis.
Sikap Bupati ini mengirimkan pesan kuat mengenai efisiensi anggaran daerah. Dengan tidak terserapnya dana Rp1,5 miliar tersebut untuk kendaraan, kas daerah memiliki ruang lebih untuk dialokasikan ke sektor-sektor yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat luas.
Langkah ini pun menuai apresiasi dari berbagai kalangan sebagai bentuk empati pemimpin terhadap kondisi ekonomi masyarakat, sekaligus pembuktian bahwa kinerja tidak ditentukan oleh baru atau tidaknya sebuah mobil dinas.
Penulis: HM JA
Editor: Redaksi.
Ikuti Saluran Jogja Aktual:
https://whatsapp.com/channel/0029VbBe2pMATRSqxbRi831Q



Social Header